Kamis, 15 Maret 2018

MENGUASAI PENGUASAAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI


A.    Identifikasi Sasaran dan Kebutuhan Bahan Belajar Pendukung Suatu Produk TIK Yang Digunakan Untuk Program PLS
            
Seperti yang kita ketahui sasaran program pls itu sangat banyak ,mulai dari penggolongan berdasarkan usia,pendidikan,jenis kelamin hingga kelompok-kelompok khusus seperti anak-anak normal yang terlantar dan anak-anak yang menglami penyimpangan social.
Kebutuhan belajar bersumber dari adanya kebutuhan yang secara bawahan (Inhaerent) dipunyai individu semenjak ia dilahirkan. Kebutuhan inilah yang merupakan tenaga pendorong bagi individu untuk hidup , untuk mempertahankan diri dari ancaman bahaya , dan untuk berkembang terus. Menurut Maslow : Seorang ahli psikologi , kebutuhan dasar manusia itu berjenjang dari tingkat yang paling rendah sampai ke tingkat yang paling tinggi. Teori itu disebut sebagai teori “Jenjang Kebutuhan Manusia”
Kata “identifikasi” berasal dari bahasa asing, yaitu bahasa Inggris. Asal kata to identify sebagai kata kerja, dan identification sebagai benda.To identify  secara sederhana artinya adalah mengenali. Hubungannya dengan pembicaraan kita disini “identifikasi sarsaran dan kebutuhan bahan belajar pendukung” artinya mengidentifikasi warga belajar/peserta didik dan mengenali kebutuhan belajar pendukungnya nya.Sebagai pembawa program atau pelaksana program PLS, dengan mengidentifikasi sasaran dan bahan belajar pendukung tersebut akan mendukung keberhasilan program dan keefektifan serta efisiensi program.
Contohnya, kita mengidentifikasi sebuah desa yang memiliki potensi jiwa wirausaha dibidang kuliner, identifikasi sasarannya adlah banyak nya ibu-ibu usia muda yang berpotensi dan tetapi belum terlalu familiar dengan teknologi.  yang dibutuhkan oleh masyarakat khususnya masyarakat desa yang kurang mengetahui perkembangan teknologi dan komunikasi. Jadi berdasarkan identifikasi tersebut kita bisa menetapkan sebuah program penyuluhan yang menggunakian TIK seperti proyektor serta penayangan-penanyangan video tutorial memasak kuliner dan memberikan bahan belajar pendukungnya seperti buku-buku resep yang nantinya akan sangat bermanfaat dalam keefektifan pembelajaran.
Dari contoh tersebut dapat dipahami bahwa mengidentifikasi adlah langkah yang sangat penting yang hyarus dilakukan seorang pelaksana ataupun pengelola program PLS agar program yang dibuat dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

B.     Penyusunan Proposal Tentang Penggunaan TIK Yang Digunakan Dalam Suatu Program PLS
Menurut Jay proposal adalah alat bantu manajemen standar agar manajemen dapat befungsi secara efisien. Sedangkan menurut Hasnun Anwar (2004: 73) pengertian proposal adalah rencana yang disusun untuk kegiatan tertentu.

Sedangkan secara sederhana proposal adapat diartikah sebuah rencana kerja yang menggambarkan semua kegiatan yang akan dilakukan dalam pelaksanaan evaluasi program. Tanpa ada proposal, kegiatan tidak akan lancar karena tanpa arah yang jelas, dan semuanya terjadi mendadak. Jadi guna kita melakukan penyusnan ataupun pembuatan proposal adalah untuk mempermudah kita dalam pelaksanaan program atau sebuah prosedur yang dilakukan demi ketercapaian tujuan program.

1.      Fungsi Proposal
Berikut ini adalah fungsi dari sebuah proposal:
  1. Untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan agama, sosial, budaya, ekonomi dan lain-lain.
  2. Bisa dipakai untuk mendirikan suatu usaha
  3. Bisa dipakai untuk mengajukan suatu tender dari berbagai macam lembaga
  4. Bisa digunakan untuk mengadakan acara-acara kegiatan tertentu seperti acara perayaan, pelatihan, perlombaan, seminar.
  5. Bisa untuk mengajukan dana pada lembaga untuk bantuan terhadap suatu acara atau pengembangan daerah

    2.      Tujuan Proposal

Tujuan dari pembuatan proposal adalah sebagai berikut:
  1. Agar mendapatan bantuan dana,
  2. Agar mendapatkan perizinan suatu acara
  3. Agar mendapatkan dukungan
  4. Agar mendapatkan sponsor
 Macam-Macam Proposal Atau Jenis-Jenis Proposal

  1. Secara Umum

  • Proposal Bisnis
          Proposal bisnis yaitu berkaitan dengan dunia usaha, baik berupa perseorangan ataupun                        kelompok.
  • Proposal Proyek
          Yaitu proposal yang mengacu pada dunia kerja yang terdapat serangkaian rencana bisnis atau               komersil.
  • Proposal Penelitian
         Proposal yang digunakan pada dunia akademikk dan organisasi keilmuan.
  • Proposal Kegiatan
         Yaitu proposal pengajuan untuk melakukan sebuah kegiatan, baik sifatnya individu atau                       kelompok.

      3.    Unsur-Unsur Proposal

Berikut unsur-unsur umum proposal.:
  • Nama Kegiatan (Judul)
         Adalah nama dari kegaiatan atau judul yang akan dilaksanakan atau dilakukan yang menjadi              gambaran secara umum proposal tersebut.
  • ·Latar Belakang

             Dalam pembuatan proposal harus tercantum latar belakang yang isinya pokok-pokok ataupun             alasan mengapa perlu diadakan atau disetujui kegiatan tersebut.
  • Tujuan Kegiatan
       Dapat berisi tujuan dari kegiatan yang akan dilakukan, tujuan harus dijelaskan dengan rinci agar         manfaat bisa terlihat oleh pembaca.
  • Tema
       Tema adalah yang mendasari suatu kegiatan yang tertera pada proposal
  • Sasaran atau Peserta
      Pada setiap proposal yang dibuat harus menetapkan secara jelas siapa yang menjadi sasaran               dalam kegiatan tersebut
  • Tempat dan Waktu
      Berisikan secara detail waktu dan tempat diadakan kegiatan tersebut
  • Kepanitiaan
       Pada proposal harus dituliskan secara lengkap susunan panitia yang mengadakan kegiatan                   tersebut
  • Rencana Anggaran Biaya
       Berisikan rencana anggaran biaya secara detail dan jelas yang akan digunakan dalam kegiatan             tersebut agar dapat dipertanggungjawabkan.


Daftar rujukan





Rabu, 07 Maret 2018

PEMBELAJARAN BERBASIS WEB


  1. KONSEP PEMBELAJARAN BERBASIS WEB
Pembelajaran berbasis web merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan media situs (website) yang bisa diakses melalui jaringan internet. Pembelajaran berbasis web atau yang dikenal juga dengan "web based learning" merupakan salah satu jenis penerapan dari pembelajaran elektronik (e-learning).
Himpunan Masyarakat Amerika untuk Kegiatan Pelatihan dan Pengembangan (The American Society for training and Development/ ASTD) (2009), mengemukakan definisi e-learning sebagai berikut :
"E-learning is a broad set of applications and processes which include web-based-learning, computer-based-learning, virtual and digital classrooms. Much of this delivered via the internet, intranets, audio and videotape, satellite broadcast, interactive TV, and CD-ROM. The definition of e-learning varies depending on the organization and how it is used but basically it is involves electronic means communication, education, and training".
Berdasarkan definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis web adalah sebuah pengalaman belajar dengan memanfaatkan jaringan internet untuk berkomunikasi dan menyampaikan informasi pembelajarna.
Web dapat menciptakan sebuah lingkungan belajar maya (Virtual Learning Environment). Lingkungan belajar yang disediakan oleh web dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang dapat kita kombinasikan penggunaannya untuk mendukung proses pembelajaran, antara lain forum diskusi, chat, penilaian online,  dan sistem administrasi. Lingkungan belajar maya yang disediakan oleh web berfungsi sebagaimana lingkungan belajar konvensional yang dapat menyampaikan informasi kepada pembelajar.
Salah satu nilai penting dari penggunaan web sebagai media web dilengkapi demgam hyperlink yang memungkinkan untuk mengakses informasi secara acak (non linear) yang berdampak pada kecepatan kita untuk memperoleh informasi yang ada di dalam web.
  1. PRINSIP-PRINSIP PEBELAJARAN BERBASIS WEB
Pembelajaran berbasis web dibangun melalui beberapa priip yang berpearandalam menentukan keerhasilan proses pembelajaran ini pada tahap implementasi. Hal yang membuat pembelajaran berbasis web ini efektif pada dasarnya bergantung pada pandangan dari pemegang kepentingan. Oleh karenanya sangat sulit untuk menetukan prinsip utama yang setidaknya harus ada dalam pembelajaran berbasis web. Menurut Rusman (2011) prinsip pembelajaran berbasis web adalah :
a. Interaksi
Interaksi berarti kapasitas komunikasi degan orang lain yang tertarik pada topik yang sama atau menggunakan pembelajaran berbasis web yang sama. Dalam lingkungan belajar, interaksi berarti kapasitas berbicara baik antar peserta, maupun antar peseta dengan instruktur. Interaksi membedakan antara pembelajaran berbasis web dengan pembelajaran berbasis komputer (Computer-Based-Instruction). Hal ini berarti bahwa mereka yang terlibat dalam pembelajaran berbasis web tidak berkomunikasi dengan mesin, melainkan dengan orang lain (baik peserta maupun tutor)yang kemungkinan tidak berada dalam lokasi bahkan waktu yang sama.
b. Ketergunaan
Ketergunaan yang dimaksud disini adalah bagaimana siswa mudah menggunakan web. Terdapat dua elemen penting dalam prinsip ketergunaan ini yaitu konsisten dan kesederhanaan. Intinya adalah bagaimana pemgembangan pembelajaran berbasis web ini menciptakan lingkungan belajara yang konsisten dan sederhana, sehingga siswa tidak mengalami kesulitan baik dalam proses pembelajaran maupun navigasi konten (materi dan aktivitas belajar lain).
c. Relevansi
Relevansi diperoleh melalui ketepatan dan kemudahan. Setiap informasi dalam web hendaknya dibuat sangat spesifik untuk meningkatkan pemahaman pembelajar dan menghindari bias. Menempatkan konten yang relevan dalam konteks yang tepat pada waktu yang tepat adalah bentuk seni tersendiri, dan sedikit pengembangan e-learning yang berhasil melakukan kombinasi ini. Hal ini melibatkan aspek keefektifan desain konten, serta kedinamisan pencarian dan penempatan konten (materi).
  1. KONSEP BLENDED LEARNING
Klasifikasi e-learning sebagai konsep dasar Blended Learning. Tipe I: Pembelajaran tatap Muka Pembelajaran dilakukan dengan adanya kehadiran fisik pengajar yang melakukan presentasi materi secara fisik tetapi tidak melakukan komunikasi elektronik. Ini merupakan tipe kelas tatap muka di kelas secara tradisional.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat mengharuskan adanya inovasi dalam pembelajaran. Inovasi tersebut salah satunya adalah Blended Learning. Konsep Blended Learning ini ialah pencampuran model pembelajaran konvensional dengan belajar secara online. Blended Learning berasal dari kata Blended dan Learning. Blend artinya campuran dan Learning artinya belajar. Dari kedua unsur kata tersebut dapat diketahui bahwa Blended Learning penyampuran pola belajar. Menurut Mosa (dalam Rusman, 2011:242) menyampaikan bahwa pola belajar yang dicampurkan adalah dua unsur utama yakni pembelajaran dikelas dengan online learning. Dalam pembelajaran online ini terdapat pembelajaran menggunakan jaringan internet yang didalamnya ada pembelajaran berbasis web.
Blended Learning ini terdapat  perpaduan dari : teknologi multimedia, CD-ROM, video streaming, kelas virtual, e-mail, voicemail dan lain-lain dengan bentuk tradisional pelatihan di kelas dan pelatihan setiap  apa yang dibutuhkannya. Blended Learning menjadi solusi yang paling tepat untuk proses pembelajaran yang sesuai, tidak hanya dengan kebutuhan pembelajaran akan tetapi gaya pembelajar. Selain Blended Learning ada istilah lain yang sering digunakan di antaranya adalah Blended Learning dan Hybrid Learning. Istilah tersebut mengandung arti yang sama yaitu perpaduan, percampuran atau kombinasi dalam pembelajaran. Intinya penggabungan atau percampuran  dua pendekatan pembelajaran yang digunakan sehingga tercipta pola pembelajaran baru dan tidak akan menimbulkan rasa bosan pada pererta didik.
Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Blended learning juga sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial.
Blended learning ialah pembelajaran  yang didukung oleh kombinasi efektif dari cara penyampaian, cara mengajar dan gaya pembelajaran yang berbeda serta  ditemukan pada komunikasi terbuka diantara seluruh bagian yang terlibat dengan pelatihan”.
  1. KARAKTERISTIK BLENDED LEARNING
Adapun karakteristik dari blended learning yaitu:
1. Pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, gaya pembelajaran, serta berbagai media berbasis teknologi yang beragam.
Penggabungan model pembelajaran konvensional dengan belajar secara online bukanlah hal yang baru, dan pelengkap pembelajaran konvensional adalah e-learning. E-learning merupakan metode pembelajaran yang berfungsi sebagai pelengkap metode pembelajaran konvensional dan memberikan lebih banyak pengalaman afektif bagi pelajar. Perbedaan pembelajaran konvensional atau e-learning yaitu pada pembelajaran konvensional guru dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajaranya. Sedangkan didalam e-learning fokus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu dan bertanggung jawab untuk pembelajarannya.
2.    Sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face to face), belajar mandiri, dan     belajar mandiri via online.
Pembelajaran blended dapat menggabungkan pembelajaran tatap muka (face-to-face) dengan pembelajaran berbasis komputer. Artinya, pembelajaran dengan pendekatan teknologi pembelajaran dengan kombinasi sumber-sumber belajar tatap muka dengan pengajar maupun yang dimuat dalam media komputer, telpon seluler atau iPhone, saluran televisi satelit, konferensi video, dan media elektronik lainnya. Pebelajar dan pengajar/fasilitator bekerja sama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Tujuan utama pembelajaran blended adalah memberikan kesempatan bagi berbagai karakteristik pebelajar agar terjadi belajar mandiri, berkelanjutan, dan berkembang sepanjang hayat, sehingga belajar akan menjadi lebih efektif, lebih efisien, dan lebih menarik.
3.    Pembelajaran yang didukung oleh kombinasi efektif dari cara penyampaian, cara mengajar dan gaya pembelajaran.
Blended learning dapat membuat peserta didik lebih termotivasi untuk melakukan pembelajaran mandiri. Hal ini terlihat dari banyaknya peserta didik yang online dalam pembelajaran. Disini juga peserta didik bertanya dalam suatu forum diskusi dengan guru maupun dengan peserta didik lain. Selain forum diskusi peserta didik menggunakan media  sebagai wahana untuk bertanya bertukar informasi dengan peserta didik lain.
4.    Guru dan orangtua pembelajar memiliki peran yang sama penting, guru sebagai fasilitator, dan orangtua sebagai pendukung.
blended learning merupakan pilihan terbaik untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan daya tarik yang lebih besar dalam berinteraksi antar manusia dalam lingkungan belajar yang beragam. Dan juga memberikan fasilitasi belajar yang sangat sensitif terhadap segala perbedaan karakteristik pskiologis maupun lingkungan belajar.
       Intinya Blended e-Learning berisi tatap muka, dimana beririsan dengan blended e-learning. pada blended e-learning terdapat pembelajaran berbasis komputer yang berisikan dengan pembelajaran online. Dalam pembelajaran online terdapat pembelajaran berbasis internet yang di dalamnya ada pembelajaran berbasis web.

  1. METODE BLENDED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS WEB
Langkah pertama adalah menentukan terlebih dahulu tipe pembelajaran yang akan disampaikan. Analisis kebutuhan dilakukkan pada langkah ini, untuk menentukan ranah mana yang akan disentuh dalam oleh proses pembelajaran ini, apakah kognitif, psikomotorik atau afektif. Dalam pembelajaran berbasis web untuk mengelompokkan tujuan pembelajaran  atau pelatihan sehingga mengembangkan program dapat mengetahui jenis kemampuan kognitif yang masing-masingnya membutuhkan penyampaian informasi, latihan dan penilaian yang berbeda.

Langkah kedua dari pemilihan proses pembelajaran, adalah memilih tipe pembelajaran berbasis web yang paling tepat sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Untuk mulai memilih tipe pembelajaran berbasis web mana yang paling tepat, pertama tentukan ranah pembelajaran yang paling mempresentasikan tujuan, yaitu kognitif, psikomotor atau afektif (Rusman dkk, 2013).

Dalam pembelajaran berbasis web dapat menggunakan metode blended Learning. Blanded Learning merupakan kombinasi metode pembelajaran yang menggabungkan sistem pembelajaran berbasis kelas (face to face) dan pembelajaran yang berbasis e-learning (Mason dan Frank, 2010). Blended Learning merupakan sebuah kombinasi dari pendekatan di dalam pembelajaran. Sehingga dapat dinyatakan bahwa blended Learning adalah metode belajar yang menggabungkan dua atau lebih metode pendekatan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan dari proses pembelajaran tersebut. Salah satu contohnya adalah kombinasi pembelajaran berbasis web dan penggunaan metode tatap muka yang dilakukan secara bersamaan di dalam pembelajaran.

Metode blended Learning memberikan kesempatan bagi peserta pembelajaran online, salah satunya untuk bertatap muka. Metode ini juga memberikan rasa keterikatan pembelajar apa yang sedang dipelajarinya. Walaupum online learning memberikan kemudahan bagi para pelajar untuk mengikuti pembelajaran di mana saja dan kapan saja, pembelajar, sebagai manusia, tetap memiliki keinginan untuk berada dalam komunitas (dalam hal ini komunitas belajar) yang sesungguhnya, dan hal ini dipandang penting dalam pembelajaran. Selain itu sosok mengajar walau tidak dominan seperti dalam paradigma mengajar, tetap diperlukan untuk pembinaan perilaku atau sikap yang berorientasi pada norma masyarakat (Rusman dkk, 2013).

  1. PROSEDUR BLENDED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN
Pertama, menetapkan macam dan materi bahan ajar. Pendidik harus paham betul bahan ajar yang seperti apa yang relevan diterapkan pada pendidikan jarak jauh (PJJ) yang sebagian dilakukan secara face to face dan secara online atau web based learning.

Kedua, tetapkan rancangan dari blended learning yang digunakan. Rancangan pembelajaran harus benar-benar dirancang dengan baik dan serius, dan juga harus melibatkan ahli e-learning untuk membantu. Hal ini bertujuan agar rancangan pembelajaran yang dibuat benar-benar relevan dan memudahkan sistem pembelajaran face to face dan jarak jauh, bukan malah mempersulit siswa ataupun tenaga kependidikan lainnya dalam penyelenggarakan pendidikan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat rancangan pembelajaran blended learning adalah (a) bagaimana bahan ajar tersebut disajikan, (b) bahan ajar mana yang bersifat wajib dipelajari dan mana yang sifatnya anjuran guna memperkaya pengetahuan, (c) bagaimana siswa bias mengakses dua komponen pembelajaran tersebu, (d) faktor pendukung apa yang diperlukan, misalnya software apa yang digunakan, apakah diperlukan kerja kelompok atau individu saja.

Ketiga, tetapkan format online learning. Apakah bahan ajar tersedia dalam format PDF, video, juga perlu adanya pemberitahuan hosting apa yang dipakai oleh guru, apakah Yahoo, Google, Facebook, atau lainnya.

Keempat, melakukan uji terhadap rancangan yang dibuat. Uji ini dilakukan agar mengetahui apakah sistem pembelajaran ini sudah berjalan dengan baik atau belum. Mulai dari kefektivan dan keefesiensi sangat diperhatikan, apakah justru mempersulit siswa dan guru atau bahkan benar-benar mempermudah pembelajaran.

Kelima, menyelenggarakan blended learning dengan baik. Sebelumnya sudah ada sosialisasi dari guru atau dosen mengenai system ini. Mulai dari pengenalan tugas masing-masing komponen pendidikan, cara akses terhadap bahan ajar, dan lain-lain. Guru atau dosen disini bertugas sebagai petugas promosi, karena yang mengikuti penyelenggaraan blended learning bias dari pihak sendiri dan bahkan dari pihak lain.

Keenam, menyiapkan kriteria untuk melakukan evaluasi. Contoh evaluasi yang dilakukan adalah dengan 
(a) Ease to navigate, 
(b) Content/substance, 
(c) Layout/format/appearance, 
(d) Interest, 
(e) Applicability, 
(f) Cost-effectiveness/value.

SUMBER
Suyono & Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Rosda
Uno, B. Hamzah. 2011. Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
http://berbasistik.blogspot.co.id/2015/10/prosedur-blended-learning-dalam.html?m=1
http://edutech.esy.es/memilih-metode-pembelajaran-berbasis-web-termasuk-metode-blended-learning/

ASPEK PENGELOLAAN SUMBER DAYA DALAM PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)





A. Kesiapan Sumber Daya Manusia dalam Pengelolaan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Program Pendidikan Luar Sekolah

Di era globalisasi seperti ini peranan teknologi informasi dan komunikasi juga sangat penting dan berpengaruh salah satunya dalam bidang manajemen sumber daya manusia. Dengan berkembang pesatnya dunia teknologi informasi dan komunikasi tentunya juga akan sangat membantu dan memudahkan dalam manajemen sumber daya manusia dalan suatu pekerjaan.
Dalam program Pendidikan Luar Sekolah (PLS), berhubungan dengan kemajuan teknologi pada saat ini, khususnya teknologi teknologi informasi dan komunikasi, maka selayaknyalah proses pembelajaran harus menggunakan kemajuan yang mampu dicapai oleh kehebatan manusia tersebut, sehingga hasil pembelajaran akan menjadi optimal. Itulah sebabnya pembelajaran kedepan harus berbasiskan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Namun walaupun demikian bukan berarti SDM dapat mengendurkan kompetensinya, tetapi sebaliknya, demi suksesnya pembelajaran berbasis TIK tersebut meningkatkan berbagai kompetensinya. Untuk itu perlunya kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mengelola TIK untuk program PLS agar suatu pembelajaran berbasis TIK dapat berjalan dengan baik.

1. Perancangan

Perancangan atau merancang merupakan suatu proses dalam menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, proses suatu perancangan harus dimulai dari penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisis kebutuhan, kemudian menetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Berikut merupakan langkah-langkah perancangan suatu pembelajaran berbasis TIK :
1) Menentukan topik pembelajaran atau topik permasalahan yang akan diselesaikan oleh warga belajar.
2) Menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh warga belajar.
3) Menentukan aktifitas pembelajaran dengan memanfaatkan TIK (seperti modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, atau alat komunikasi sinkronous dan asinkronous lainnya) yang relevan untuk mencapai tujuan yang ditentukan.

2. Pemanfaatan

Terdapat tiga prinsip dasar dalam teknologi pendidikan sebagai acuan dalam pengembangan dan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, yaitu : pendekatan sistem, berorientasi pada warga belajar, dan pemanfaatan sumber belajar (Sadiman, 1984:44). Prinsip pendekatan sistem berarti bahwa penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran perlu diseain /  perancangan dengan menggunakan pendekatan sistem.
Untuk itu, Sumber Daya Manusia perlu mengetahui serta dapat menerapkan berbagai pemanfaatan dari Teknologi Informasi dan Komunikasi program Pendidikan Luar Sekolah.

3. Evaluasi

Evaluasi berguna untuk mengetahui apakan warga belajar mengerti dan paham dengan apa yang diajarkan oleh pendidik. Dalam hal ini perlu dilakukannya evaluasi agar warga belajar dapat menerapkan teori maupun praktek dalam kehidupan sehari-hari.

B. Keberterimaan Warga Belajar terhadap Produk Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) yang Digunakan dalam Program Pendidikan Luar Sekolah

Dalam program Pendidikan Luar Sekolah, terdapat banyak produk Teknologi, Informasi dan Komunikasi sebagai pendukung proses pembelajaran. Produk tersebut dapat berguna untuk mempermudah proses pembelajaran. Namun tidak semua warga belajar dapat menerima produk TIK yang digunakan, karna tidak semua warga belajar dapat menggunakan produk tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwasanya bukan hanya warga belajar yang tidak dapat menggunakan produk TIK tersebut, tetapi banyak juga pendidik yang belum bisa menerapkan produk TIK ini didalam pembelajaran Pendidikan Luar Sekolah.
Produk TIK seperti Internet, VCD/DVD, dan sebagainya memiliki dampak yang berbeda-beda, yakni ada diantaranya dampak positif maupun dampak negatif. Untuk itu, kita sebagai pendidik harus menguasai terlebih dahulu berbagai macam produk dari Teknologi, Informasi dan Komunikasi. Serta sebagai pendidik juga harus mengetahui berbagai kelebihan dan kekurangan produk TIK sebagai media dalam pembelajaran Pendidikan Luar Sekolah. Agar produk TIK tersebut dapat diterima oleh warga belajar dalam Pendidikan Luar Sekolah.

DAFTAR RUJUKAN :
http://prathidinapertiwi.blogspot.co.id/2016/11/merancang-pembelajaran-berbasis-tik.html
http://suwardilubis.blogspot.co.id/2015/12/pemanfaatan-teknologi-informasi-dan.html


http://wahyuindahyuliani123.blogspot.co.id/2016/01/hubungan-sumber-daya-manusia-dan.html
http://gurupembaharu.com/images/stories/Modul%20TIK%20TENDIK.pdf

Kamis, 01 Maret 2018

PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DALAM PEMBELAJARAN PROGRAM PELATIHAN



A.    PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)  DALAM PEMBELAJARAN PROGRAM PELATIHAN
Pengembangan dan penggunaan Teknologi Informasi dan komunikasi (TIK) dalam pendidikan dapat membuat reformasi untuk sistem pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Penggunaan TIK di berbagai program di dunia pendidikan sangat berpengaruh bahkan sudah menjadi kebutuhan vital. Salah satu contoh kegiatan/program yang tidak terlepas dari penggunaan TIK adalah program Pelatihan.
TIK menyebabkan perubahan peran pendidik yang tidak sekedar sebagai sumber dan pemberi ilmu pengetahuan, namun menjadikannya sebagai seorang fasilitator bahkan menjadi seorang pamong dalam pelatihan yang lebih profesional dan memiliki daya tarik tersendiri dengan media TIK yamg digunakan.
Dalam hal ini TIK mencakup perangkat komunikasi atau aplikasi, meliputi: radio, televisi, telepon selular, komputer dan jaringan perangkat keras dan perangkat lunak, sistem satelit dan sebagainya, serta berbagai layanan dan aplikasi yang terkait dengan mereka, seperti video conference dan pembelajaran jarak jauh.
Hal senada dikemukakan oleh Anderson (2010: 4) bahwa TIK mencakup banyak teknologi yang memungkinkan kita untuk menerima informasi dan berkomunikasi atau bertukar informasi dengan orang lain, dengan perangkat dan fungsi untuk (menangkap), Interpreting (menaf sirkan), storing (menyimpan), dan Transmitting (mengirimkan).
Yves Punie and Marcelino Cabrera (2006: 27) menjelaskan terdapat dua perspektif  utama tentang peran TIK, yaitu: (1) TIK untuk pembelajaran dan (2) belajar dengan menggunakan TIK. Guna mendukung pemanfaatan dan pengembangan TIK, pemerintah telah banyak melakukan upaya, antara lain: (1) Penyediaan jasa akses internet di beberapa kecamatan di antaranya melalui Community Access Point (CAP), Mobile CAP (MCAP), dan warung masyarakat informasi; (2) Pembentukan Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) yang melakukan pengawasan dan pengamanan jaringan internet Indonesia; (3) Pengesahan UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang merupakan undang-undang pertama di bidang TIK; (4) Dimulainya penyusunan RUU Cyber Crime dan RUU Ratifikasi Convention on Cyber Crime; (5) Pembangunan model implementasi e-government dan pengesahan Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Sistem Elektronik Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah (e-Government); (6) Pembangunan pusat pendidikan dan pelatihan bidang TIK untuk meningkatkan e-literasi aparatur pemerintah, pekerja, dan masyarakat melalui proyek National ICT Human Resource Development dan Establishment of Vocational Training Center in the Field of ICT. Kesemuanya itu tentunya dapat digunakan d;lam program-program pendidikan luar sekolah termasuk program pelatihan.
Secara umum untuk mengetahui kondisi SDM teknologi informasi dan komunikasi dapat diketahui dari tingkat kesadaran, pemahaman dan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi yang disebut e-literacy yang dalam bahasa Inggris diartikan sebagai “the ability to read and write” atau kemampuan untuk membaca dan menulis. E-literacy, dapat dilihat dari gambaran kemampuan akses masyarakat terhadap informasi melalui internet yang didukung oleh keunggulan teknologi informasi dan komunikasi.
Dalam program pelatihan, penerapan TIK dapat memperlancar kegiatan pembelajaran, seperti kombinasi teknologi audio-data, video-datam audio video dan internet. Media internet merupakan alat komunikasi yang mempermudah dalam proses pembelajaran pada pelatihan, peserta dapat belajar kemudian mengikuti tutorial yang diajarkan oleh tutor tersebut tanpa harus bersusah payah memperhatikan langsung tutornya dan pelatihan dapat berlangsung dengan efektif dan efisien, tetapim pada proses ini bukan berarti penggunaan TIK menghilangkan peran tutor, karena pada dasarnya teknologi tidak akan bisa dijalankan tanpa adanya komunikasi. Istilah yang sering digunakan untuk mengungkapkan sstem ini adalah cyber teaching atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet.
B.     PENGGUNAAN TIK DALAM PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Penggunaan TIK dalam pembelajran program pemberdayaan masyarakat sangat luas hal ini sesuai dengan yang tertera dalam Buku Putih Kementrian Riset dan Teknologi tahun 2006 disebutkan harapan-harapan yang ingin dicapai dalam penelitian dan pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia, yaitu (1) Meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan rakyat, (2) Meningkatkan daya saing bangsa, (3) Memperkuat persatuan dan kesatuan nasional, ( 4) Mewujudkan pemerintahan yang transparan, (5) Meningkatkan jatidiri bangsa di tingkat internasional. Dari kelima hal tersebut, penelitian dan pengembangan TIK diharapkan lebih melihat user needs (kebutuhan pengguna atau stakeholder) serta lebih membumi dan memprioritaskan penelitian ke arah mencari solusi kebutuhan riil masyarakat.
Teknologi Informasi dan Komunikasi harus mampu menjawab kepentingan empat stakeholder, yaitu (1) Masyarakat dan publik, untuk menuju masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society) dan layanan elektronik (e-Service), (2) Pemerintah, untuk menuju e-Government dan membentuk pemerintah yang bersih dan transparan, (3) Industri, untuk menuju industri TIK tingkat global dan berdaya saing tinggi, (4) Lembaga Iptek, untuk menuju lembaga riset ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa bersaing di kancah internasional. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka dibuatlah prioritas-prioritas. Dalam lima prioritas utama yang masing-masing memiliki bidang garapan seperti di bawah ini :
  §  Infrastruktur Informasi : jaringan informasi dan telekomunikasi, information exchange, digital broadcasting, perangkat keras komputer dan device pendukungnya, community access point.
  §Perangkat Lunak : sistem operasi, sistem aplikasi, bahasa pemrograman dan development tool,opensource, simulasi dan komputasi.
  § Kandungan(content)Informasi: repository dan information sharingcreative digitaldata security, dan e-Service.
  §  Pengembangan SDM dan Kelembagaan : edukasi dan research center, sertifikasi dan kurikulum TIK, pengembangan software house lokals, inkubator bisnis dan competence center, pengembangan ICT park.
  §  Regulasi dan standardisasi : regulasi konvergensi TIK, pengembangan sistem insentif, standardisasi peralatan TIK, universal service obligation (USO).
                  Tujuan pemberdayaan masyarakat adalah memampukan dan memandirikan masyarakat terutama dari kemiskinan dan keterbelakangan/kesenjangan/ketidakberdayaan. Kemiskinan dapat dilihat dari indikator pemenuhan kebutuhan dasar yang belum mencukupi/layak. Kebutuhan dasar itu, mencakup pangan, pakaian, papan, kesehatan, pendidikan, dan transportasi. Sedangkan keterbelakangan, misalnya produktivitas yang rendah, sumberdaya manusia yang lemah, terbatasnya akses pada tanah padahal ketergantungan pada sektor pertanian masih sangat kuat, melemahnya pasar-pasar lokal/tradisional karena dipergunakan untuk memasok kebutuhan perdagangan internasional.
            Pemberdayaan masyarakat bisa dilakukan oleh banyak elemen: pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, pers, partai politik, aktor masyarakat sipil, atau oleh organisasi masyarakat lokal sendiri. Teknologi perlu ditingkatkan untuk mendorong masyarakat agar dapat berkembang kearah kemajuan. misalnya dengan mengajarkan kepada masyarakat penggunaan media komputer berbasis internet sehingga masyarakat dapat mengalami perkembangan dan perubahan kearah kemajuan misalnya melalui perdagangan online, mengakses informasi luar negeri melalui internet dan menggunakan media sosial seperti yang sedang berkembang saat ini. Sehingga dengan banyaknya masyarakat yang berkomunikasi dan aktif dimedia sosial maka kemajuan disuatu daerah akan cepat. Informasi-informasi akan mudah diakses bahkan masyarakat dapat meningkatkan penghasilan melalui jejaring sosial.
             Contoh penggunaan TIK dalam rangka pemberdayaan masyarakat  adalah  pada program PKBM, dan pada program lainnya.
C.     PENGGUNAAN TIK DALAM PEMBELAJARAN PROGRAM PENYULUHAN
                  Selanjutnya tidak hanya dalam program pendidikan,pelatihan ataupun pemberdayaan masyarakat, penggunaan YIK juga sangat penting dalam program penyuluhan.Contoh dari pengguanan TIK dalam program penyuluhan adalah penyuluhan program keluarga berencana (KB). Melalui komputer atau laptop dan didukung oleh proyektor penyuluh akan sangat mudah dalam menyajika materi. Beragam informasi tentang KB akan disampaikan kepada masyarakat. Dengan adanya teknologi informasi ini tentunya membuat penyajian materi pun akan lebih menarik.
                    Selain dari informasi yang disampaikan menarik yang dapat menumbuhkan motivasi juga sekaligus memberikan pemahaman lebih kepada masyarakat terkait program KB. Model ini dipandang sangat strategis karena mampu meningkatkan akses informasi bagi masyarakat, petugas penyuluh, peneliti baik di lembaga penelitian maupun di universitas serta para manajer penyuluhan.
T                   Tidak hanya itu, dalam hal mempromosikan atau mem-boomingkan program pemerintah atau yang biasa dikenal dengan iklan layanan masyarakat penggunaan TIK akan sangat berperan sekali, karena penyebarluasan informasi tersebut harus merata dan diterima oleh seluruh masyarakat. contohnya dalam mempromosikan tentang bahaya narkoba, banyak cara yang bisa dilakukan dalam menyebarluaskan nya seperti pembuatan spanduk atau poster berupa peringata-peringatan bahaya narkoba yang tentunya dibuat menggunakan teknologi  yang modern, selanjutnya juga menyebarluaskannya melalui media-media elektronik seperti handphone,televisi, radio dsb.    


Referensi :
https://lukmantalibo.wordpress.com/2011/07/14/pemanfaatan-teknologi-informasi-untuk-pemberdayaan-masyarakat-bagian-1/

MENGUASAI PENGUASAAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

A.     Identifikasi Sasaran dan Kebutuhan Bahan Belajar Pendukung Suatu Produk TIK Yang Digunakan Untuk Program PLS              Seper...